Pages

Search This Blog

Loading...

Tuesday, February 22, 2011

CERITA DARI SEKOLAH HARAPAN AL QUR'AN

Setelah membuat post sebelum ini (Ibu, Ayah..Berikanlah Kami Teladan), Ate jadi tertarik untuk mengenali Sayed Muhammad Husain Tabatabai. Googling punya googling, akhirnya Ate menemukan tentang kaedah menghafal Al Quran yang di ajarkan oleh ayah Sayed Husain di sekolahnya Jamiatul Quran.  Kaedahnya santai tapi sangat berkesan. Di sekolah tersebut anak-anak di tanamkan kecintaan pada Al Quran sehingga berjaya menghadamkan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.  Jika anda bercita-cita untuk menghantar anak-anak ke sekolah tersebut lupakanlah sahaja...kerana sekolahnya nunnnnnn...jauh di Iran. Tapi jika anda ingin mencuba untuk melaksanakannya sendiri kepada anak-anak, kuasailah Al Quran terlebih dahulu, Insyallah pasti berjaya. (huhuhu...macam susah jerrr). Cerita dibawah dipetik dari blog bundakirana dan diubah sedikit (sikitttt aja) beberapa perkataannya ke bahasa Malaysia tanpa mengubah maksudnya.
***********
Namanya Muhammad Husain Tabatabai. Dalam usianya yang baru lima tahun (sekarang, mungkin 19 atau 20 tahun), dia sudah menghafal seluruh isi Al Quran bersama dengan terjemahannya. Bak komputer, dia mampu menyebutkan ayat pertama dari setiap halaman Al Quran, baik berurutan dari depan ke belakang atau dari belakang ke depan. Dia mampu membacakan ayat-ayat dalam satu halaman secara mundur (dari ayat terakhir hingga ayat pertama). Dia mampu menjawab pertanyaan “Apa bunyi ayat dari surat sekian, ayat sekian?” atau sebaliknya, “Ayat ini berasal dari surat mana, ayat berapa?” Dia juga boleh menjawab pertanyaan tentang topik-topik ayat, contohnya "Sebutkan semua ayat dalam Al Quran yang berhubungan dengan Isa bin Maryam.” Pada usia enam tahun, dia mendapat gelar Dr. HC dari sebuah universitas Islam di London.

Sayed Muhammad Husain Tabatabai

Ketika saya mengandungkan Kirana, saya dan suami telah bercita-cita memasukkan anak kami ke Jamiatul Quran, sebuah sekolah hafalan Quran untuk anak-anak yang didirikan oleh ayahanda Muhammad Husain Tabatabai, setelah beliau berhasil mendidik anaknya menjadi hafiz Quran. Akhirnya, ketika Kirana berumur empat tahun, cita-cita itu tercapai. Inilah sekelumit cerita tentang sekolah itu:

Anak-anak usia bawah lima tahun yang masuk ke sekolah ini, tidak disuruh langsung menghafal juz’amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar kepada mereka, misalnya, gambar anak sedang mencium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnakan gambar itu). Lalu, guru bercerita tentang gambar itu (jadi anak harus baik…dll). Kemudian, si guru mengajarkan ayat “wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23” dengan menggunakan isyarat (seperti isyarat orang yang cacat pendengaran/pekak), misalnya, “walidaini”, isyaratnya buat misai dan buat tudung di wajah (menggambarkan ibu dan ayah). Jadi, anak-anak mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 hingga 5 bulan. Setelah itu, mereka belajar membaca dan baru kemudian mulai menghafal juz’amma.

Suasana kelas juga semarak sekali. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai pulang, para guru memberikan pujian-pujian (sayang, cantik, manis, pintar…dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali seminggu) selalu ada saja hadiah yang diberikan untuk anak-anak, stickers, pensil warna, mainan kereta dll. Habis baca doa, anak-anak diajak bersenam, baru mulai menghafal ayat. Itupun, sebelumnya guru mengajak bersembang dan anak-anak saling berebut memberikan pendapatnya. (Sayang Kirana kerana masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya). Setelah berjaya menghafal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai permainan. Oh ya, para ibu juga duduk di kelas, bersama anak-anaknya. Kelas itu berjalan dalam masa 90 minit .

 "Mama, membuka paip air dengan besar itu israf'" Kirana

Hasilnya? Wah, bagus sekali! Ketika melihat saya membuka paip air terlalu besar, Kirana akan menegur, “Mama, itu israf (mubazir)!” (Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A’raf :31 “kuluu washrabuu walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih-lebihan). Waktu dia menonton TV ada adegan polis mengejar penjahat, dia berkata “Innal hasanaat yuzhibna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan” (Hud:114). 

Seorang teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa setiap kali dia bersembang dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan menegur “Mama, ghibah ya?” (soalnya, dia sudah belajar ayat “laa yaghtab ba’dhukum ba’dhaa”). Anak saya (dan anak-anak lain, seperti yang di ceritakan oleh ibu-ibu mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang-ulang ayat-ayat itu tanpa perlu disuruh. Ayat-ayat itu seolah-olah menjadi bahagian dari diri mereka. Mereka sama sekali tidak disuruh pakai tudung. Tapi, setelah diajarkan ayat tentang jilbab, mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan tudung. Anak saya, ketika mungkir janji (misalnya, janji tidak main keluar lama-lama, ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat “limaa taquuluu maa laa taf’alun” …dia terus menjawab “Nanti tidak akan buat begitu lagi Ma…!” Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah bertanya pada pihak sekolah, baru saya tahu bahwa method seperti ini tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak-anak kepada Al Quran. Anak-anak usia bawah lima tahun ini diharapkan pada masa hadapan akan mempunyai kenangan indah tentang Al Quran. Di Iran, gerakan menghafal Quran untuk anak-anak kecil memang benar-benar digalakkan. Setiap anak penghafal Quran dihadiahkan pergi haji bersama ibubapanya oleh negara dan setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil menghafal Al Quran (baik berasal dari Jamiatul Quran, maupun sekolah-sekolah lain). Salah satu tujuan Iran dalam hal ini (kata salah seorang guru) adalah untuk menepis isu-isu dari musuh-musuh Islam yang ingin memecah-belahkan umat muslim, yang menyatakan bahwa Quran-nya orang Iran itu lain daripada yg lain. Sepertinya, saya memang harus bersyukur bahwa Kirana memiliki kesempatan untuk bergabung dalam gerakan menghafal Quran ini.
***********
(Ahhh...Ate mengimpikan sekolah seperti ini di Malaysia.  Ate mengharapkan 'kita' bisa melahirkan seramai mungkin Generasi Qurani, Ate mengkhayalkan kerajaan Malaysia akan memberikan insentive seperti cerita di atas buat para Hafiz... Impian dan Harapan dalam Dunia Magika penuh Khayalan.. Mungkinkah menjadi kenyataan??) 


No comments:

Post a Comment