Pages

Search This Blog

Showing posts with label CINTA/UKHUWAH. Show all posts
Showing posts with label CINTA/UKHUWAH. Show all posts

Saturday, March 26, 2011

GETAR HATI INI MASIH SAMA

"Ya ALLAH, jagalah sahabatku ini di kala penjagaanku tak sampai kepadanya. Sayangi dia di kala rasa sayangku, tak mampu merangkulnya dalam dakapan yang nyata. Kurniakan kepadanya kesabaran dan kekuatan. Muliakan dia di kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja, karena Engkau punya segala yang aku tak punya dan karena aku ingin dia selalu menjadi saudaraku di dunia dan mengharap bertemu dengannya di syurga..Amin"

Telah beberapa tahun sms ini diterima.
Sudah tak terhitung berapa kali Ate membacanya. Getar hati ini masih tetap sama. 
Walau siapa pun dia di seberang sana yang memulai... terimakasih yang tak terhingga.
Sms ini menyatukan hati-hati kami dalam dakapan ukhuwah. 

Di sini ada Cinta. Di sini ada Rindu.

Tuesday, March 8, 2011

DI TELAGA ITU RASUL MENANTI

Rindu kami padamu Ya Rasul. Rindu tiada terperi.


Salam sejahtera untukmu wahai kekasih Allah, Rasul pilihan.  Kami merindukan mu, wahai Nabi yang penyayang.  Di atas lembaran-lembaran yang masih utuh, engkau terus memanggil, menyapa dalam kasih sayang yang abadi.  Melalui sabda-sabdamu yang menghidupkan, melalui sunnahmu yang menghantarkan, melalui ajaranmu, petunjuk jalan, arah dan ajakanmu... Semuanya dalam citra rasa cintamu yang tanpa pamrih.  Para ulama besar menyambungkannya untuk kami.  Semuanya adalah rangkaian jalan panjang, yang kau hamparkan di sini.  Tapi hujung jauhnya tersambung di sana, di puncak cintamu di telaga itu, kelak.
******
Manusia agung itu memang telah tiada.  Setelah dua puluh tiga tahun menebar cahaya Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang, untuk menyelamatkan kita, umatnya.. akhirnya beliau pergi menemui Rabb.  Kepergiannya membuat seisi dunia menangis dan berduka. Meskipun telah tiada, namun kecintaan sang Nabi kepada kita, tidak pernah berhenti.  (Walau terkadang kita yang di cintanya tidak  pandai membalas cinta). Kecintaannya di bawa ke akhir hayat.. Bahkan tidak berujung.  Cinta itu selalu hadir kapan dan bagaimanapun situasinya.  Tak terbatas dunia dan akhirat. Tak terbezakan di saat aman atau tidak.  Di saat seorang ibu dan seorang anak tidak saling mengenal sekalipun.

Di sana, di padang mahsyar ketika segenap kita di sibukkan oleh urusan masing-masing.  Ketika kita digiring secara kasar menuju pengadilan Tuhan Yang Maha bijaksana.  Ketika kita dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tanpa alas kaki. Ketika matahari dengan sinarnya yang membakar hanya berjarak satu hasta dari kepala.  Ketika rasa haus mencekik tenggorok. Ketika ini dan itu terjadi, cinta manusia agung itu kembali hadir. Ya, hadir dalam sebuah telaga yang indah nan menyegarkan.  Yang semua orang pasti berharap dapat meneguk  airnya di tengah berbagai kesulitan yang mendera.

Anas bin Malik ra pernah bercerita, "Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada di tengah-tengah kami, beliau mengantuk.  Mendadak beliau terbangun sambil tersenyum,  Kami bertanya, "Kenapa engkau tersenyum, wahai Rasulullah?"  Beliau menjawab, " Baru sahaja turun sebuah surah kepadaku."  Beliau lalu membaca surah Al Kautsar.  Kemudian beliau bertanya, " Tahukah kalian, apa itu Al Kautsar?"  Kami menjawab, Sesungguhnya Allah dan RasulNya lebih mengetahui."  Beliau bersabda, "Ia adalah sebuah telaga yang penuh dengan kebajikan, yang dijanjikan oleh Tuhanku kepadaku.  Pada hari kiamat nanti umatku akan mendatangi telaga itu." (HR Muslim)

Ibnu Abbas ra pernah berkata, "Rasulullah saw di tanya tentang padang mahsyar, tempat makhluk menghadapi Allah; apakah di sana ada air?"  Beliau menjawab, "Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggaman Nya, di sana ada air.  Orang-orang yang di kasihi Allah akan mendatangi telaga para nabi.  Allah akan mengutus tujuh puluh ribu malaikat dengan memegang tongkat dari neraka yang digunakan untuk menghalau orang-orang kafir yang datang ke telaga para nabi."

Di telaga itu Rasulullah saw menanti umatnya dangan luapan cinta dan kasih sayangnya, menyambut mereka yang sedang kehausan.  Beliau sangat menenali umatnya kerana memang mereka memiliki tanda yang tidak dipunyai oleh siapapun dari umat lain.  "Kalian akan datang kepadaku dengan muka, lengan dan betis yang berkilauan kerana tanda air wudhu," tegas beliau dalam sabdanya.

Dan orang yang pertama kali datang menghampiri telaga itu adalah para fakir miskin dari golongan Muhajirin.  Tsauban ra meriwayatkan dari Rasulullah saw beliau bersabda, "Manusia pertama yang datang ke sana adalah para fakir miskin kaum Muhajirin yang pakaian nya kotor, berambut kusut, yang tidak menikah dengan wanita yang hidup sejahtera dan tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu rumah .(HR Ibnu Majah)

Ketika mendengar hadis dari Tsauban itu, Umar bin Khattab menangis tersedu-sedu sehingga airmata membasahi janggutnya.  Dia berkata, "Tetapi aku menikah dengan wanita yang hidup sejahtera dan aku dibukakan pintu pintu rumah."  Dia amat sedih dan khuatir kalau- kalau dia tidak dapat merasakan nikmatnya air telaga Rasulullah saw.

Umar menangis, padahal dia adalah sebahagian dari sepuluh orang yang dijamin masuk syurga.  
Umar menangis, padahal dia termasuk dalam golongan orang-orang yang pertama masuk Islam.  
Umar menangis, padahal dia adalah salah satu perajurit Badar.
Umar menangis, padahal Anas bin Malik meriwayatkan dia akan menjadi penjaga salah satu sudut telaga sang Rasul.  
Umar menangis, padahal dia memiliki banyak keistimewaan di sisi Allah dan Rasul Nya.

Siapakah kita di bandingkan dengan Umar?  Adakah kita pernah menangisi keadaan kita di hari yang mencengkam itu? Kita bukanlah sesiapa. Kita belum pernah melakukan sesuatu yang istimewa untuk Allah, untuk RasulNya, untuk agamaNya bahkan untuk diri kita sendiri.  Namun anehnya, air mata kita belum pernah setitis pun mengalir menangis kerana takut tidak di beri barang seteguk pun air telaga Kausar.  Pada hal kita tidak tahu bagaimana kondisi kita saat itu, apakah terusir ataukah dibiarkan mendekat.

Rasulullah saw bersabda, “Aku terus berada di telaga sampai aku melihat siapa di antara kalian yang datang.  Akan ada beberapa orang yang dilarang mendekati aku, lalu aku katakan, “Wahai Tuhanku, biarkanlah mereka mendekati aku.  Mereka adalah umat ku.” Allah bertanya kepadaku, “Tahukah kamu apa yang mereka lakukan sepeninggalanmu?  Sesungguhnya dahulu mereka murtad, Kamu tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalanmu.”

Cinta Rasul kepada umatnya tidak akan pudar.  Meski ada dari umatnya di larang mendekat, beliau terus berdoa memohon kepada Allah agar mereka diperkenankan mendekati telaganya.  Tapi cinta itu tidak akan berpengaruh pada keselamatan kita, jika kita tidak pandai membalas cinta Rasulullah dengan mengikuti seruannya dan menghindari larangannya.  

Hari ini, entah di hujung pelarian mana kita menuju.  Tapak demi tapak adalah keniscayaan menuju kematian.  Di telaga itu kelak, Rasul tercinta setia menanti.  Dengan cinta dan kasih sayangnya. Tidak ada yang patut dilakukan kecuali sentiasa memohon agar bila tiba saatnya, kita bisa bertemu Rasul di telaga itu, lalu meminum airnya dengan sepuas hati.  Di sana…di telaga itu Rasul menanti. 
(Tarbawi)

Wednesday, March 2, 2011

SEBUAH KISAH MENGENAI SEORANG KAWAN

Selalu begitu. Menyengat. Jujur. Tulus. Kata-katanya menggambarkan, "Iya, Aku selalu akan mendoakanmu. Tanpa mungkin harus kau pinta juga."  Itu yang Aku rasa ketika dalam obrolan via YM. Kupinta doanya. Dan dengan singkat, ia hanya jawab, "Selalu Mat".


Ahh, entahlah. Tapi mari kuperkenalkan kepada teman-teman semua sahabatku yang satu ini. Sahabat yang langka. Kurasa adalah karunia Allah yang besar ditakdirkan bisa bergaul bersamanya.

Skenario Allah, beliau bisa menamatkan hafalan 30 juz Al Quran pada usia 13 tahun.
Skenario Allah, kedua orang tuanya terilhamkan untuk menitipkan pendidikan putranya ini di sebuah Sekolah berasrama nan jauh di pelosok desa Cihideung, kecamatan Cinangka. Dan di pendidikan SMP kelas dualah, awal mula aku berkenalan dengannya. Tidak ada yang istimewa. Selain, dia dari Negeri Seberang sana dan penghafal 30 juz Al Quran. Orangnya biasa-biasa saja. 

Sesuatu yang luar biasa kami lewati bersama. Ah. Ya, karunia-Nya juga, kami sama-sama melanjutkan ke SMA yang sama. Menjadi Mentor Asrama bersama. Petualangan. 
Proses interaksi kami dengan Islam cenderung bersama. Tapi, ya. Di sini beliau melesat tinggi.

Jujur, beliau termasuk sebaik-baik saudara yang pernah kukenal. Sebaik-baik kawan yang pernah kukenal. Nasihatnya sering terucap secara halus. Dengan nuansa yang tidak teramat menyinggung. Kedalaman ilmunya tampak pada ketenangannya.

Beliau melanjutkan kuliah di sebuah Unversitas yahud Negeri ini. Di sebuah jurusan ilmu alam. Interaksiku dengan beliau berkurang. Hanya sesekali. Terkadang via online. Ah, mungkin kita kurang kan menangkap sesuatu yang teramat istimewa pada dirinya. Tapi justru itulah yang membuatku justru semakin senang padanya. Kehebatan yang paling agung seringkali tidak tampak sebagai sesuatu yang 'wah' di permukaannya. Tapi semakin sering kita berinteraksi dengannya, semakin rindu kita padanya. Hingga sekarang, kabar-kabar yang beliau bagi semakin membuatku sayang padanya. Semua yang beliau capai memang pantas. Semakin tanya itu menyelusup..
"Surga, terasa jauh..."

Aku ingin kalian mengenal saudaraku yang satu itu...
Dan bersiap-siaplah untuk kecewa karena kalian tidak akan menemukan kehebatan yang terlalu besar pada beliau. Tapi, mungkin.. kalian akan betah untuk berlama-lama dengannya. Namun jalan kita masih panjang. Dan semoga persahabatan itu tidak berakhir disini. Semoga kelak persahabatan itu berujung di Surga-Nya yang terhormat. Ya, disana kita Reuni. REUNI AKBAR. Amin.

Oh..Aku hampir lupa untuk mengatakan nama sahabatku itu. Beliau bernama Mohd Ahmad Al Rashid. Oh ya, beliau juga nggak punya akaun facebook. Jadi jangan coba-coba untuk mencarinya. :D
Mohd Ahmad Alrashid-Hanyalah seorang yg biasa2.


Kadang, seorang yang biasa-biasa bisa meninggalkan kesan yang luar biasa dalam diri kita. Tak kenal maka tak cinta.  Cinta yang tumbuh lillahi taala, antara sahabat yang berlandaskan Ukhuwah Islamiah bukan kepalang hebatnya, sehingga menimbulkan rasa cemburu kepada para nabi dan syuhada' sebagaimana sabda Rasulullah saw. “Di sekitar Arasy ada menara-menara dari cahaya. Di dalamnya ada orang-orang yang pakaiannya dari cahaya dan wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukan para Nabi atau syuhada’. Para Nabi dan syuhada cemburu kepada mereka.” Ketika ditanya para sahabat, Rasulullah menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai kerana Allah, saling bersahabat kerana Allah dan saling berkunjung kerana Allah.” (HR Tirmizi) 

Petikan kisah seorang kawan, yang di zahirkan oleh seorang pemuda bernama RAKHMAT WIRAWAN adalah gambaran kedekatan hati dua insan yang berada di dalam DAKAPAN UKHUWAH.
 ********

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji. 

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.
(Dalam Dakapan Ukhuwah Salim A Fillah)